IO Study Abroad, Bagi Tips Kuliah ke Luar Negeri dengan Beasiswa

IO Study Abroad, Bagi Tips Kuliah ke Luar Negeri dengan Beasiswa

Dalam acara ini, pemateri Imam Santoso mengatakan bahwa ALFALINK siap membantu para peserta yang nantinya berminat untuk melanjutkan studi di luar negeri. Ada beberapa beberapa universitas yang telah bekerja sama dengan ALFALINK, di antaranya terletak di Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Malaysia, Singapura, Inggris, Kanada, Swiss, dan Prancis. Imam menambahkan, Swiss dan Prancis hanya ditujukan bagi yang berminat mengambil studi S-1, sedangkan sisa negara lain untuk peminat studi lanjut S-2 maupun S-3.

Imam menegaskan bahwa sebelum melengkapi persyaratan yang diperlukan, peminat yang akan mendaftar beasiswa harus mengunduh buku panduan yang tersedia di website penyedia beasiswa. Kejadian yang lalu, peminat tidak membaca buku panduan dan akhirnya baru beberapa tahap sudah gugur karena tidak sesuai dengan panduan. Dalam acara ini, Imam juga mengenalkan beasiswa Dikti, LPDP, IPRS, AMINEF, DAAD, dan lain-lain.

Strategi Mendaftar

Salah satu tips yang diberikan Imam terkait Letter of Acceptance (LoA)—surat keterangan bahwa sudah diterima di sebuah universitas—yang nantinya LoA ini digunakan untuk mendukung dokumen saat mencari beasiswa. Jika pilihan negara yang dituju seperti Australia dan Selandia Baru, proses mendapatkan LoA tersebut relatif cepat sekitar 3 sampai 4 minggu. “Kalau sudah ada transkip ijazah, surat keterangan lulus, kirimkan ke saya, saya kembalikan dalam kurun waktu 3 sampai 4 minggu, saya yakin LoA-nya sudah keluar,” terangnya. Akan tetapi jika negara yang dituju seperti Amerika Serikat atau Inggris, LoA akan turun dalam jangka waktu lama sekitar 4-5 bulan. “Saya sarankan untuk yang ini jalan dua-duanya. Daftar beasiswanya sekalian daftar universitasnya,” lanjut Imam.

Imam Santoso berikan tips kuliah di luar negeri dengan beasiswa.
Imam Santoso berikan tips kuliah di luar negeri dengan beasiswa.

Kepala IO, Taufiq Almakmun menyampaikan harapannya bahwa dengan digelarnya acara ini, civitas akademika UNS bisa memiliki pengetahuan dan kesadaran tentang studi lanjut. “Sehingga kita berpikir mau studi lanjut punya alternatif yang banyak, bukan karena kesasar tapi karena memilih,” Taufiq mengungkapkan.

IO tidak membatasi peserta yang akan mengikuti program IO Study Abroad, peserta dari luar UNS pun diperbolehkan untuk bergabung. “UNS punya prinsip untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat termasuk memberikan informasi seluas-luasnya,” jelas Taufiq. Hanya saja, Taufiq melanjutkan, ketika IO membuat program selalu ada priority scale yang mana civitas akademika UNS akan didahulukan.“Tapi harapan kami juga mereka yang datang ke sini akan menceritakan ke teman-temannya, adik-adiknya di rumah dan sebagainya. Bahwa itu snowball effect yang memang kita harapkan,” pungkas Taufiq. [] (dodo.red.uns.ac.id)